TUGAS V FONOLOGII

TUGAS FONOLOGI
NAMA   :REZA KOMALA
KELAS  :2B
NPM       : 136210330


Gangguan Komunikasi pada Anak (Gagap)

Anak yang gagap sering kali mendapat gertakan, semakin gagap ia semakin sering pula menerima gertakan.
“Bbbbebebe.......bebe.....” Ari yang berusia sembilan tahun itu tak segera dapat meluncurkan kata “betul” dari mulutnya, saat harus menjawab pertanyaan dari gurunya. Yang terdengar kemudian justru teriakan teman-teman di kelasnya dengan bersama-sama melontarkan satu kata, “Dor!”
Ari tertunduk malu, ia tampak tidak berdaya menghadapi gertakan keras yang memotong kata yang hendak diucapkannya. Lebih-lebih ejekan dan suara tawa berseliweran dari teman-teman sekelasnya.
Sayangnya guru di kelas tidak cukup tegas memberikan perlindungan bagi murid yang mengalami gangguan wicara akibat gagap itu. Senyum tipis bahkan tersungging di bibir sang guru, meskipun setelah itu terucap peringatan tanggung, “Ssssttt.... anak-anak tidak boleh begitu. Beri kesempatan Ari untuk menjawab.”
Dengan situasi seperti itu, yang terjadi hampir setiap saat, Ari akhirnya lebih suka menarik diri dari pergaulan. Ia tumbuh sebagai anak yang pemalu, pendiam, dan lebih suka menghabiskan waktunya untuk belajar, sehingga nilai-nilai rapornya selalu bagus. Ari tumbuh sebagai anak laki-laki yang tampan dan cerdas, dengan bakat melukis yang bagus, tetapi gagap saat berbicara

Penyebab Gagap

Menurut William Murphy, seorang peneliti di Departement of Speech, Language and Hearing Science, Purdue University As “gagap terjadi karena adanya kombinasi yang kompleks antara faktor biologis dan kesalahan dalam proses belajar bicara”. Gagap dapat ditandai dengan ciri-ciri suara mulut yang berulang (terjadi repetisi), jaraknya panjang antara satu kata dengan kata berikutnya, atau mengalami blokade ketika akan mengucapkan sebuah kata.
Seorang anak dapat dideteksi mengalami kegagapan jika selama enam bulan atau setahun ia menunjukkan gejalanya terus-menerus. Biasanya dalam keluarga juga terdapat riwayat orang yang sudah lebih dulu mengalami kegagapan. Dalam hal ini biasanya lebih banyak terjadi pada anak laki-laki.
Di Indonesia, kita tidak pernah tahu berapa jumlah orang yang mengalami gagap. Namun, di Negara Paman Sam diperkirakan sekitar 5 persen anak pra sekolah dan 1 persen orang dewasa mengalami gagap. Tingkat kekacauan saat berbicara ini sangat berbeda-beda pada setiap orang yang mengalami kegagapan. Ada yang tingkat kegagapannya tidak terlalu parah, tetapi hal itu sudah bisa menyebabkan penderitanya menarik diri dari pergaulan dan enggan berpartisipasi dalam percakapan karena merasa minder atau rendah diri.

Sering Digertak
Dalam berbagai kesempatan kita bisa menyaksikan bagaimana anak-anak yang sudah mengalami penderitaan akibat gagap dalam berbicara ini, harus semakin tersiksa oleh tingkah laku teman-temannya atau bahkan oleh orang dewasa lain yang tidak cukup bijaksana. Anak-anak ini biasanya digertak sedemikian rupa ketika yang bersangkutan sedang mengalami kesulitan untuk mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Akibatnya, mereka menjadi semakin kecil hati, rendah diri, tidak nyaman, takut dan enggan untuk berbicara.
Menurut National Stuttering Association, AS, penelitian membuktikan bahwa anak-anak yang gagap berbicara justru lebih sering mengalami gertakan dibandingkan anak-anak lain. Dan semakin buruk kegagapan yang dialami seorang anak, semakin sering pula yang bersangkutan mendapat gertakan.
Dalam buku terbaru keluaran Purdue University berjudul Bullying and Teasing: Helping Children Who Stutter, di mana Murphy juga ikut menulis, dijelaskan bahwa bagi anak-anak yang gagap, gangguan dan gertakan dari teman-temannya justru membuat mereka lebih gelisah dan menderita dibanding gangguan wicara itu sendiri. Mungkin itu pula sebabnya meskipun anak-anak itu sudah mendapatkan terapi wicara dan telah mengalami kemajuan dalam keterampilan berbicara, persoalan tidak dengan sendirinya terlepas dari mereka. Anak-anak itu tetap saja memiliki perasaan negatif tentang dirinya dan kegagapannya, ketika mereka tumbuh semakin besar. Keterampilan mereka berbicara yang boleh jadi sudah tidak memperlihatkan sisa-sisa kegagapan, masih tetap dibayangi oleh rasa malu dan minder, yang diperoleh dari gangguan dan gertakan-gertakan yang telah dialami.
Di sisi lain, orangtua tidak begitu yakin apa yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan jika anak mereka yang gagap mendapat gertakan dan gangguan dari teman-temannya. Sebagian orangtua menyarankan anak-anak supaya membalas gangguan yang diterimanya. Yang lain menganjurkan untuk mengabaikan saja gertakan yang didapat, dan menjauh dari teman-teman yang suka menggertak dan mengganggu.
Namun, menurut Murphy, anak-anak tidak bisa sungguh-sungguh mengabaikan gangguan dan gertakan yang sering diterimanya itu karena memang mereka merasa sangat terganggu.
Melakukan serangan balik terhadap anak-anak atau orang lain yang mengganggu juga tidak menyelesaikan masalah, bahkan mungkin mendatangkan lebih banyak masalah dengan anak-anak yang suka menggertak itu.
Mengatasi kegagapan tidak semudah yang orang sering ucapkan ketika menghadapi anak gagap: “Pokoknya tenang dan kalem saja kalau mau berbicara.” Saran ini mungkin cocok bagi anak-anak yang grogi, tetapi bukan itu yang diperlukan oleh anak yang gagap.
Yang pasti, gagap pada masa anak-anak dapat diatasi dengan terapi wicara.
Terapi yang dilakukan ketika masih kanak-kanak akan lebih mudah meraih keberhasilan dibanding saat yang bersangkutan sudah dewasa. Salah satu contoh orang yang pernah mengalami kegagapan di masa kanak-kanak adalah Winston Churchill.

Untuk mengatasi perasaan negatif serta rasa malu akibat kegagapan yang pernah dialami itu, alangkah baiknya jika anak-anak mendapatkan pendampingan dari psikolog, selama diperlukan. Para guru di sekolah sangat diharapkan kontribusinya agar anak-anak yang gagap tidak menjadi semakin terpuruk oleh ulah teman-temannya, akibat sering menerima ejekan dan gangguan dari mereka.


  Contoh kasus disleksia
Pada suatu ketika ada seorang ibu yang mengeluhkan tentang perilaku anaknya, sebut saja Rudi. Rudi adalah seorang anak kelas 2 SD yang saat ini tidak ingin sekolah lagi. Nilai yang diperoleh Rudi semakin menurun dibanding sebelumnya. Rudi juga enggan mengerjakan PR bahasa Indonesia yang diberikan oleh gurunya dengan alasan bosan dan sudah bisa. Dengan penuh kesabaran ibunya membujuk Rudi untuk mengerjakan soal bahasa Indonesianya itu, sebelum menjawab pertanyaan yang tersedia ibu meminta Rudi untuk membaca cerita pendek yang ada pada buku pegangan miliknya. Namun betapa kaget dan shock ibunya saat mengetahui bahwa Rudi masih mengeja satu persatu huruf dari cerita pendek tersebut. Kemudian ibunya pun mendatangi gurunya dan menanyakan keadaan Rudi jika disekolah. Gurunya menjelaskan bahwa Rudi adalah siswa yang patuh, dan selalu memperhatikan guru saat diberi penjelasan. Namun Rudi sering terlihat malas dan tidak mau mengerjakan terutama saat pelajaran bahasa, mencongak atau membaca.
Saat ini ibunya merasa kebingungan atas apa yang terjadi pada anaknya. Diantara kebingungannya, sang ibu kemudian membawa Rudi ke seorang Psikolog dan menemukan jawabannya bahwa Rudi mengalami Disleksia. Dari contoh kasus tersebut diatas merupakan suatu persoalan yang sering dialami oleh orangtua. Tidak jarang pula orangtua mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi persoalan yang sedang menimpa anaknya. Permasalahan anak di sekolah banyak disebabkan karena anak mengalami kesulitan dalam hal belajar. Anak dengan permasalahan belajar biasanya mempunyai permasalah yang khusus yakni mengalami kesulitan membaca, sedangkan inteligensinya normal dan tidak mempunyai penyimpangan lain (Mőnks, F.J., 2002).
Kesulitan dalam belajar yang dialami oleh anak biasanya disebabkan karena disleksia. Hambatan membaca atau dyslexia didefinisikan sebagai suatu type gangguan belajar dimana anak gagal menguasai berbagai proses dasar, seperti mengenali huruf dan memadukan suara, meskipun secara intelegensi cukup dan kesempatan pendidikan telah terpenuhi. Disleksia lebih disebabkan karena terdapat perbedaan dalam cara otak memproses kalimat terutama yang bekenaan dengan bunyi, simbol, dan makna. Membaca merupakan proses yang sangat kompleks yang melibatkan berbagai fungsi kognitif, antara lain meliputi: perhatian, konsentrasi, kemampuan menggabungkan antara modal-modal sensori dan juga berbagai subskill serta kemampuan-kemampuan lain, seperti: kesadaran phonology (kesadaran pada diri dan karakteristik bunyi kata), rapid decoding (mengeja cepat), pemahaman verbal, dan intelegensi umum (Sattler, J. 1988).
Anak dengan hambatan membaca atau disleksia mengalami kesulitan dalam mengenal kata yang mereka baca. Adanya penurunan dari permasalahan ingatan, namun lebih termanifestasi pada penurunan bahasa dan penurunan proses fonologi. Pada intinya anak yang mengalami hambatan dalam membaca, memiliki masalah dalam mengenal kata yang mereka baca, menempatkan berbagi fonem (suara dasar pada akhir kata), serta mengingat kata yang telah dipelajari sebelumnya (Kearney, 2006).

Adapun beberapa ciri yang dapat dijadikan acuan dalam mengidentifikasi disleksia, diantaranya berikut:
- Lemah dalam membaca, menulis, dan mengeja. Anak yang mengalami disleksia akan mengalami kesulitan atau lamban dalam membaca, menulis dan mengeja.
- Keliru atau sering terjadi kesalahan dalam mengucap b/d, p/q, m/w, n/u Kesalahan dalam mengucapkan huruf-huruf tersebut sering kali terjadi pada anak yang mengalami disleksia.
- Kesulitan dalam mengingat perkataan Dalam hal ini sulit bagi anak untuk mengingat sesuatu yang baru dia dengar kemudian menjelaskan dengan tepat.
- Kesulitan dalam memahami konsep masa lalu. Dalam hal ini, anak sering kupa bahkan sering terjadi kesalahan dalam mengingat kembali suatu peristiwa atau kejadian yang pernah ia lewati.
- Perbedaan yang menonjol antara kemampuan lisan dengan tulisannya. Anak yang mengalami disleksia memiliki kemampuan lisan yang baik dan fasih, namun lemah dalam hal bacaan.


Hubungan kekerabatan
Hubungan kekerabatan atau kekeluargaan merupakan hubungan antara tiap entitas yang memiliki asal usul silsilah yang sama, baik melalui keturunan biologis, sosial, maupun budaya. Dalam antropologi, sistem kekerabatan termasuk keturunan dan pernikahan, sementara dalam biologi istilah ini termasuk keturunan dan perkawinan. Hubungan kekerabatan manusia melalui pernikahan umum disebut sebagai "hubungan dekat" ketimbang "keturunan" (juga disebut "konsanguitas"), meskipun kedua hal itu bisa tumpang tindih dalam pernikahan di antara orang-orang yang satu moyang. Hubungan kekeluargaan sebagaimana genealogi budaya dapat ditarik kembali pada Tuhan[1] (lihat mitologi, agama), hewan yang berada dalam daerah atau fenomena alam (seperti pada kisah penciptaan).
Hubungan kekerabatan adalah salah satu prinsip mendasar untuk mengelompokkan tiap orang ke dalam kelompok sosial, peran, kategori, dan silsilah. Hubungan keluarga dapat dihadirkan secara nyata (ibu, saudara, kakek) atau secara abstrak menurut tingkatan kekerabatan. Sebuah hubungan dapat memiliki syarat relatif (mis., ayah adalah seseorang yang memiliki anak), atau mewakili secara absolut (mis, perbedaan status antara seorang ibu dengan wanita tanpa anak). Tingkatan kekerabatan tidak identik dengan pewarisan maupun suksesi legal. Banyak kode etik yang menganggap bahwa ikatan kekerabatan menciptakan kewajiban di antara orang-orang terkait yang lebih kuat daripada di antara orang asing, seperti bakti anak.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TUGAS FONOLOGI BAHASA INDONESIA,REZA KOMALA,136210330



TUGAS FONOLOGI BAHASA INDONESIA

NAMA:REZA KOMALA
NPM    :136210330
KELAS  :2B

TUGAS 1


Sifat Hakiki Bahasa
1. Sistematik
Bahasa memiliki dua sistem besar yang juga merupakan bagian inti dari sebuah bahasa, yaitu :
 Sistem bunyiü
 Sistem maknaü

2. Arbiter
Yang dimaksud dengan arbiter adalah tidak adanya aturan secara khusus, hanya kesepakatan sebuah konvensi.

3. Vokal
Hakikat bahasa yang sebenarnya adalah bunyi yang dihasilkan oleh articulator (alat ucap), sehingga bahasa yang sebenarnya adlah bahasa lisan.

4. Simbol
Bahasa sebagai symbol dapat digunakan secara singkat dan efisien. Simbol atau lambang tersebut pada umumnya memiliki arti tersendiri, menggambarkan apa yang dilambangkan.

5. Mengacu pada Dirinya Sendiri
Bahasa manusia dapat digunakan untuk menyebutkan, menjelaskan atau mendeskripsikan bahasa itu sendiri. Hal ini tidak berlaku pada bahasa binatang, bahasa binatang tidak dapat digunakan untuk menganalisis bahasa mereka sendiri.

6. Komunikasi
Fungsi utama bahasa adalah sebagai sarana komunikasi yang memungkinkan manusia dapat saling berinteraksi.

7. Dinamis
Bahasa bersifat dinamis, terus-menerus mengalami perubahan dan perkembangan. Sifat dinamis bahasa perlu dilakukan oleh bahasa itu sendiri agar dapat menyesuaikan perkembangan zaman, sehingga tidak ditinggal zaman atau mati.

8. Produktif
Dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas mampu dibuat bahasa yang jumlahnya tak terbatas

9. Konvensional
Semua anggota masyarakat mematuhi konvensi bahasa bahwa lambing tertentu digunakan untuk mewakili konsep tertentu.

10. Bermakna
Bahasa memiliki makna, sesuai dengan fungsi bahasa sebagai sarana komunikasi.
11. Universal
Dapat diterima atau digunakan secara umum atau orang banyak.


TUGAS II



Segmental adalah fonem yang bisa dibagi. Contohnya, ketika kita mengucapkan “Bahasa”, maka nomina yang dibunyikan tersebut (baca: fonem), bisa dibagi menjadi tiga suku kata: ba-ha-sa. Atau dibagi menjadi lebih kecil lagi sehingga menjadi: b-a-h-a-s-a. 

Suprasegmental adalah sesuatu yang menyertai fonem tersebut yang itu bisa berupa tekanan suara (intonation), panjang-pendek (pitch), dan getaran suara yang menunjukkan emosi tertentu. Nah, kesemua yang tercakup ke dalam istilah suprasegmenal itu tidak bisa dipisahkan dari suatu fonem
.



TUGAS III

Dasar yang paling baik untuk melambangkan bunyi ujaran atau bahasa adalah satu bunyi ujaran yang membedakan arti dilambangkan dengan satu lambang tertentu. Lambang yang dipakai untuk mewujudkan bunyi ujaran itu biasa disebut huruf. Dengan huruf-huruf itulah manusia dapat menuliskan gagasan yang semula hanya disampaikan secara lisan.
Keseluruhan peraturan tentang cara menggambarkan lambang-lambang bunyi ujaran dalam suatu bahasa termasuk masalah yang dibicarakan dalam ejaan. Yang dimaksud dengan ejaan adalah cara melafalkan dan menuliskan huruf, kata, unsur serapan, dan tanda baca. Bahasa Indonesia menggunakan ejaan fonemik, yaitu hanya satuan bunyi yang berfungsi dalam bahasa Indonesia yang dilambangkan dengan huruf.
Ejaan yang berlaku dalam bahasa Indonesia sekarang menganut sistem ejaan fonemis, yaitu satu bunyi dilambangkan dengan satu tanda (huruf). Akan tetapi, kenyataannya masih terdapat kekurangan. Kekurangan tersebut terlihat pada adanya fonem (bunyi) yang masih dilambangkan dengan dua tanda, yaitu /ng/, /ny/, /kh/, dan /sy/. Sebaliknya, ada dua fonem yang dilambangkan dengan satu tanda saja, yaitu /e/ pepet dan /e/ taling. Hal ini dapat menimbulkan hambatan dalam penyusunan ejaan bahasa Indonesia yang lebih sempurna.


TUGAS IV


Linguistik teoritis, yaitu bidang linguistik yang mengkaji dan mengupas bahasa untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa. Linguistik teoritis ada ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus. Linguistik yang bersifat umum biasanya disebut linguistik umum yang berusaha memahami ciri-ciri umum dari berbagai bahasa. Linguistik teoritis yang khusus berusaha menyelidiki ciri-ciri khusus dalam bahasa tertentu saja. Linguistik teoritis mencakup: linguistik deskriptif, linguistik historis komparatif. Pembagian ini dirinci satu persatu sebagi berikut:
1. linguistik teoritis adalah cabang llinguistik yang memusatkan perhatian pada teori umum dan metode-metode umum dalam penyelidikan bahasa;
2. linguistik deskriptif disebut juga linguistik sinkronis adalah bidang linguistik yang menyelidiki sistem bahasa pada waktu tertentu saja. Misalnya: bahasa Indonesia dewasa ini, bahasa Inggris yang dipakai oleh shakepeare, dan sebagainya tanpa memperhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu. Cabang ini terbagi atas fonologi deskriptif, morfologi deskriptif, sintaksis deskriptif, leksikologi deskriptif. Fonologi meneliti tentang ciri-ciri bunyi dan fungsi bunyi. Morfologi menyelidiki tentang kata, unsur, dan proses pembentukannya, sintaksis menyelidiki satuan antara satuan-satuan itu. Morfologi dan sintaksis termasuk dalam tataran tata bahasa atau gramatika. Leksikologi menyangkut perbendaharaan kata atau leksikon; c) linguistik historis komparatif (diakronis) adalah linguistik yang mempelajari dan menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa lain, serta menyelidiki perbandingan satu bahsa dengan bahasa lain untuk menemukan bahasa purba atau bahasa proto sebagai bahasa induk bersama. LHK terbagi pula atas bidang (1) fonologi), (2) morfologi, (3) sintaksis, (4) leksikologi historis komparatif. Dinyatakan pula bahwa bahasa mempunyai aspek makna atau aspek semantis. Penyelidikan tentang aspek ini baik yang bersifat teoritis umum maupun yang bersifat deskriptif dan bersifat historis komparatif, disebut semantik. Bidang ini sering disebut semantik linguistik, untuk membedakannya dengan semantik filosofis, yakni cabang ilmu filsafat yang juga menyelidiki makna.
Linguistik Terapan (appllied linguistics) adalah pemanfaatan pengetahuan tentang alamiah bahasa yang dihasilkan oleh peneliti bahasa yang dipergunakan untuk meningkatkan keberhasilan tugas-tugas praktis yang menggunakan bahasa sebagai komponen inti. mencakup bidang: pengajaran bahasa, penerjemahan, leksikologi, fonetik terapan, sosiolinguistik terapan, pembinaan bahasa internasional, pembinaan bahasa khusus, linguistik
medis, mekanolinguistik. Penjelasanya sebagi berikut:
a) pengajaran bahasa mencakup metode-metode pengajaran bahasa, ucapan bunyi-bunyi dengan
b) pelajaran bahasa, strategi, model, dan cara-cara pengajaran bahasa.
c) Penerjemahan, mencakup metode dan tehnik pengalihan amanat dari satu bahasa ke bahasa lain.
d) Leksikografi, mencakup metode dan tehnik penyusunan kamus.
e) Fonetik terapan, mencakup metode dan tehnik pengucapan bunyi-bunyi dengan tepat, misalnya untuk melatih orang yang gagap, untuk melatih pemain drama, dan sebagainya.
f) Sosiolinguistik terapan, mencakup pemanfaatan wawasan sosiolinguistik untuk keperluan praktis, seperti perencanaan bahasa, pembinaan bahasa, pemberantasan buta aksara, dan sebagainya.
g) Pembinaan bahasa Internasional, mencakup usaha untuk menciptakan komunikasi dan saling pengertian internasional dengan menyusun bahasa buatan seperti bahasa esperanto.
h) Pembinaan bahasa khusus, mencakup penyusunan istilah dan daya bahasa dalam bidang-bidang khusus, antara lain dalam militer, dalam dunia penerbangan, dalam dunia pelayaran.
i) Linguistik medis, membantu bidang patologi dalam hal penyembuhan cacat bahasa.
j) Grafologi, kajian linguistik tentang tulisan-tulisan.
k) Mekanolinguistik, mencakup penggunaan linguistik dalam bidang komputer dan usaha untuk membuat mesin penerjemah, usaha pemanfaatan komputer dalam penyelidikan bahasa, misalnya dalam penyusunan konkordansi teks-teks, dalam perhitungan frekwensi kata-kata untuk perkamusan dan pengajran bahasa.
Bidang ini disebut juga linguistik komputasi. Kajian linguistik terapan merupakan salah satu bagian dari kajian linguistik interdisipliner. Kajian interdisipliner yang antara lain psikolinguistik, sosiolinguistik, etnolinguistik. Secara singkat penjelasannya sebagai berikut:
1. Filsafat bahasa adalah kajian yang mengupas kodrat dan kedudukan bahasa manusia dalam hubungannya dengan filsafat dan peranan melahirkan pemikiran filsafat;
2. Psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dan perilaku serta akal budi manusia atau ilmu interdisipliner linguistik dengan psikologi;
3. Etnolinguistik adalah cabang linguistik yang menyelidiki hubungan antara bahasa dan masyrakat pedesaan atau masyarakat yang belum mempunyai tulisan. Bidang ini disebut juga linguistik antropologi. Berdasarkan hubungan dengan faktor di luar bahasa objek kajiannya dibedakan adanya linguistik mikro dan linguistik makro Linguistik mikro mengarahkan kajian pada struktur internal atau struktur bahasa tertentu atau subsistem bahasa tertentu, maka dalam linguistik mikro terdapat pembidangan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Ada juga yang menggabungkan morfologi dengan sintaksis menjadi morfosintaksis, dan menggabungkan morfologi dengan semantik dan leksikologi menjadi leksikosemantik. Namun, dalam makalah ini akan membahas mengenai fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, wacana, dan sejarah aliran linguistik. Kemudian, dalam kajian mikrolinguistiknya, yaitu sosiolinguistik, psikolinguistik, antropolinguistik, pragmatik, dan neurolinguistik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS